Translate

Minggu, 23 September 2012

Implementasi Lean Six Sigma


Frost Angel
4AD4/25
IMPLEMENTASI LEAN SIX SIGMA DENGAN PENDEKATAN VALUE STREAM MAPPING UNTUK EVALUASI DAN PENINGKATAN KINERJA GREEN SUPPLY CHAIN (STUDI KASUS PT. ECCO INDONESIA 

Fenomena baru mengenai new industrial revolution (revolusi industri baru), yang pada hakekatnya terkait dengan manajemen lingkungan turut mempengaruhi kebijakan mengenai peningkatan kinerja pada perusahaan. Hal ini memberikan gambaran bagi perusahaan terutama yang berorientasi global untuk memperluas wawasan dengan memperhitungkan faktor manajemen lingkungan dalam peningkatan kinerja supply chain perusahaan. Faktor manajemeniingkungan yang diperhitungkan dalam manajemen yang efektif pada kinerja supply chain dilakukan untuk mencapai peningkatan kinerja yang menyeluruh mulai dari supplier sebagai pemasok material, proses produksi, delivery produk, sampai dengan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan recovery produk seperti remanufacturing, recycle, maupun re-use yang merupakan bagian dari green supply chain. Perencanaan peningkatan kinerja dapat dilakukan dengan mengetahui lebih dahulu kinerja supply chain yang ada pada perusahaan yang dievaluasi dengan menggunakan metodologi Lean Six Sigma DMAIC Process dengan pendekatan Value Stream Mapping yang divisualisasikan dengan Big Picture Mapping. PT. ECCO Indonesia yang menjadi obyek dalam penelitian ini merupakan produsen sepatu kulit yang berorientasi pada pasar luar negeri (ekspor). Variasi produk yang dihasilkan banyak khususnya berupa kulit sepatu, upper sepatu, serta sepatu jadi {finished shoe). Proses mulai bahan baku masuk, proses produksi, sampai dengan produk jadi serta delivery melalui berbagai tahap, dimana setiap tahap menggunakan berbagai sumber daya. Agar perusahaan dapat berproduksi secara optimal maka harus dibuat suatu perencanaan peningkatan kinerja green supply chain yang tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan tetapi juga bagi lingkungannya. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk membuat gambaran menyeluruh aktivitas perusahaan untuk mengetahui kinerja green supply chain dengan pendekatan big picture mapping; mengidentifikasi waste dengan menggunakan value stream mapping tools; dan merancang sistem green supply chain yang lebih efisien dengan mereduksi biaya dan waste yang telah diidentifikasi. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemborosan tertinggi yang terjadi adalah waste human potential yang berkaitan dan sebagian besar waktu aktivitas merupakan delay dengan persentase 73,89% walaupun jumlah aktivitas terbesar adalah operasi dengan persentase 74,26%. Sedangkan biaya non value adding activity yang dikeluarkan paling tinggi adalah untuk pembuangan limbah yang dapat ditekan dengan pengiriman 25% limbah ke pengolah lokal ataupun investasi sludge and fleshing dryer dengan penghematan biaya masing-masing sebesar Rp. 283.500.000,00 dan Rp. 1.282.489.957,12 pertahun

Fenomena baru mengenai new industrial revolution (revolusi industri baru), yang pada hakekatnya terkait dengan manajemen lingkungan turut mempengaruhi kebijakan mengenai peningkatan kinerja pada perusahaan. Hal ini memberikan gambaran bagi perusahaan terutama yang berorientasi global untuk memperluas wawasan dengan memperhitungkan faktor manajemen lingkungan dalam peningkatan kinerja supply chain perusahaan. Faktor manajemeniingkungan yang diperhitungkan dalam manajemen yang efektif pada kinerja supply chain dilakukan untuk mencapai peningkatan kinerja yang menyeluruh mulai dari supplier sebagai pemasok material, proses produksi, delivery produk, sampai dengan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan recovery produk seperti remanufacturing, recycle, maupun re-use yang merupakan bagian dari green supply chain. Perencanaan peningkatan kinerja dapat dilakukan dengan mengetahui lebih dahulu kinerja supply chain yang ada pada perusahaan yang dievaluasi dengan menggunakan metodologi Lean Six Sigma DMAIC Process dengan pendekatan Value Stream Mapping yang divisualisasikan dengan Big Picture Mapping. PT. ECCO Indonesia yang menjadi obyek dalam penelitian ini merupakan produsen sepatu kulit yang berorientasi pada pasar luar negeri (ekspor). Variasi produk yang dihasilkan banyak khususnya berupa kulit sepatu, upper sepatu, serta sepatu jadi {finished shoe). Proses mulai bahan baku masuk, proses produksi, sampai dengan produk jadi serta delivery melalui berbagai tahap, dimana setiap tahap menggunakan berbagai sumber daya. Agar perusahaan dapat berproduksi secara optimal maka harus dibuat suatu perencanaan peningkatan kinerja green supply chain yang tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan tetapi juga bagi lingkungannya. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk membuat gambaran menyeluruh aktivitas perusahaan untuk mengetahui kinerja green supply chain dengan pendekatan big picture mapping; mengidentifikasi waste dengan menggunakan value stream mapping tools; dan merancang sistem green supply chain yang lebih efisien dengan mereduksi biaya dan waste yang telah diidentifikasi. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemborosan tertinggi yang terjadi adalah waste human potential yang berkaitan dan sebagian besar waktu aktivitas merupakan delay dengan persentase 73,89% walaupun jumlah aktivitas terbesar adalah operasi dengan persentase 74,26%. Sedangkan biaya non value adding activity yang dikeluarkan paling tinggi adalah untuk pembuangan limbah yang dapat ditekan dengan pengiriman 25% limbah ke pengolah lokal ataupun investasi sludge and fleshing dryer dengan penghematan biaya masing-masing sebesar Rp. 283.500.000,00 dan Rp. 1.282.489.957,12 pertahun

0 komentar:

Poskan Komentar

Tolong beri komentar untuk membangun blog ini menjadi lebih baik lagi dan semakin bermanfaat. Terimakasih

 

Popular Posts

Popular Posts this month

Popular Posts this week