Translate

Rabu, 13 Februari 2013

Profil Negara Lengkap Negara Mesir


Sejarah Mesir 
merupakan sejarah berterusan paling panjang, sebagai sebuah negeri bersatu, antara negara-negara di dunia. Lembah Nil sudah menjadi kawasan petempatan kekal manusia sejak Zaman Paleolitik. Penduduk awal bercucuk tanam, memburu, serta memancing untuk menyara hidup. Menjelang 6000 S.M., kehidupan penduduk menjadi lebih berorganisasi. Firaun Menes telah menyatukan wilayah-wilayah di lembah Nil dan menubuhkan kerajaan Mesir yang pertama pada 3200 S.M. Dengan ini, pemerintahan Mesir secara dinasti bermula.
Dinasti Mesir Purba

Sphinx
Rencana utama: Mesir Purba
  • Zaman Protodinastik (3200 - 3000 S.M.)
  • Zaman Dinasti Awal (~3000 - 2575 S.M.)
    • Dinasti Pertama (~3000 - 2890 S.M.)
    • Dinasti Kedua (2890 - 2575 S.M.)
  • Kerajaan Lama (~2630 - ~2150 S.M.)
  • Zaman Pertengahan Pertama (~2150 - 2055 S.M.)
  • Kerajaan Tengah (~2030 - 1640 S.M.)
  • Zaman Pertengahan Kedua (~1640 - ~1549 S.M.)
  • Kerajaan Baru (1550 - 1077 S.M.) - pemerintahan Tutankhamun
  • Zaman Pertengahan Ketiga (1070 - 644 S.M.)
  • Zaman Lewat (672 - 330 S.M.)
    • Empayar Achaemenid (penaklukan Parsi pada 525 S.M.)
  • Zaman Graeco-Rom
    • Dinasti Ptolemy (305 - 30 S.M.)
Semasa Dinasti Ptolemy (Dinasti Ptolemeus) di bawah firaun Cleopatra VII, Mesir ditewaskan dan ditakluk oleh Empayar Rom selepas Pertempuran Actium. Selepas pemisahan Empayar Rom, Mesir diletakkan di bawah Empayar Rom Timur, iaitu Empayar Byzantine yang beragama Kristian. Pada 639 M pula, Mesir dikuasai oleh kerajaan Arab yang dipimpin oleh Khalifah. Pada zaman inilah penduduk Mesir memeluk agama Islam. Mesir kemudiannya ditakluk oleh kerajaan Turki Uthmaniyyah pada 1517.
Zaman Moden
Terusan Suez dibina pada 1869 dan menjadikan Mesir sebagai pusat perhubungan dan pengangkutan sedunia. Pertikaian antara kerajaan Uthmaniyyah dan British mendorong kepada pengambilan kawasan Mesir oleh pihak British pada 1914. British melantik Husayn Kamil sebagai Sultan Mesir.
Akibat gerakan nasionalisme yang hebat, British menyiharkan kemerdekaan Mesir pada 22 Februari 1922. Kerajaan baru ditubuhkan dan bersifat raja berperlembagaan. Pada 1948, Mesir terlibat dalam serangan oleh negara-negara Arab terhadap Israel tetapi kalah dalam perang tersebut. Golongan nasionalis yang tidak puas hati telah menggulingkan institusi beraja pada 1952 dalam Revolusi Mesir dan menyiarkan Republik Arab Mesir pada 1953.
Gamal Abdel Nasser menjadi Presiden Republik pada 1954 dan mengisytiharkan kemerdekaan penuh daripada United Kingdom. Tindakan Abdel Nasser memiliknegarakan Terusan Suez pada 1956 mambangkitkan kemarahan United Kingdom dan Perancis, dan mengakibatkan konflik tentera, iaitu Krisis Suez. Dalam Perang Enam Hari 1967, wilayah Mesir, iaitu Semenanjung Sinai dan Genting Gaza ditakluk oleh Israel.
Abdel Nasser meninggal dunia pada 1970 dan digantikan oleh Anwar Sadat. Pada 1973, Mesir dan Syria melancarkan Perang Yom Kippur bagi mendapat balik wilayah Semenanjung Sinai dan Bukit Golan. Campur tangan pihak Amerika Syarikat dan Kesatuan Soviet berjaya memulakan gencatan senjata. Pada 1977, Sadat menandatangani perjanjian damai dengan Israel untuk mendapatkan balik Semenanjung Sinai. Tindakannya mencetuskan kemarahan dalam kalangan penduduk Arab di dalam dan luar Mesir. Pada 1981, Sadat telah dibunuh.
Sadat digantikan oleh timbalannya Hosni Mubarak yang merupakan Presiden Mesir dan sekarang digantikan oleh Mohamed Morsi.

Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
Jasa terpenting yang disumbangkan Mesir bagi kemajuan umat Islam adalah hasil kegiatannya dalam bidang pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. Sejak masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, Mesir khususnya Cairo, telah menjadi pusat intelektual muslim dan kegiatan ilmiah dunia Islam. Pendirian Universitas al-Azhar (universitas tertua di dunia) oleh Jauhar al-Katib as-Siqilli pada tanggal 7 Ramadhan 361 (22 Juni 972) memainkan peranan yang penting dalam sejarah peradaban Islam. Pada masa selanjutnya, selama berabad-abad universitas itu menjadi pusat pendidikan Islam dan tempat pertemuan puluhan ribu mahasiswa muslim yang datang dari seluruh dunia.
Tumbuhnya Mesir sebagai pusat ilmu keislaman didukung oleh para penguasanya yang sepanjang sejarah menaruh minat besar terhadap ilmu pengetahuan. Seorang khalifah dari Dinasti Fatimiyah, al-Hakim (996-1021) mendirikan Darul Hikmah, yakni pusat pengajaran ilmu kedokteran dan ilmu astronomi. Pada masa inilah muncul Ibnu Yunus (348-399 H./958-1009 M.) seorang astronom besar dan Ibnu Haitam (354-430 H./965-1039 M.) seorang tokoh fisika dan optik. Selain itu ia mendirikan Daar al-'Ilm, suatu perpustakaan yang menyediakan jutaan buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Pada tahun 1013 al-Hakim membentuk Majelis Ilmu (Lembaga Seminar) di istananya, tempat berkumpulnya sejumlah ilmuwan untuk mendiskusikan berbagai cabang ilmu. Kegiatan ilmiah ini ternyata memunculkan sejumlah ilmuwan besar Mesir yang pikiran dan karya-karyanya berpengaruh ke seluruh dunia Islam.
Pada zaman modern terutama dengan ekspansi Napoleon ke Mesir (1798), umat Islam bangun dari tidurnya dan menyadari keterbelakangannya. Muhammad Ali (penguasa Mesir tahun 1805-1849) bertekad untuk mengadakan alih ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat ke dunia Islam melalui Mesir. Untuk itu ia mengirim mahasiswa untuk belajar ke Perancis. Setelah kembali ke Mesir, mereka menjadi guru di berbagai universitas, terutama di Universitas al-Azhar, tempat ribuan mahasiswa dari berbagai negara Islam menimba ilmu pengetahuan. Dengan demikian menyebarlah ilmu-ilmu itu ke berbagai daerah Islam.
Selama pemerintahan Kerajaan Ottoman, kebudayaan Islam di Mesir mengalami kemunduran karena yang berkuasa percaya bahwa menuntut ilmu filsafat, ilmu bumi, ilmu pasti dan ilmu-ilmu yang bertalian dengan itu dianggap sebagai penyebab kemurtadan. Akan tetapi perubahan arah kebudayaan dan pendidikan Mesir sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia Islam terjadi ketika Muhammad Abduh (w. 1905) dan kawan-kawannya mendendangkan kebangkitan. Gema dari gagasan-gagasan tokoh ini dan para muridnya menggetarkan dunia Islam secara keseluruhan. Muhammad Abduh mengembangkan Universitas al-Azhar baik dari segi fisik maupun pemikirannya.
Pengaruh lain yang penting bagi kebudayaan dunia Islam adalah pendirian universitas-universitas di Mesir (1908) sesaat sebelum Perang Dunia I. Universitas-universitas ini tumbuh dan mempunyai fakultas-fakultas: kedokteran, farmasi, teknik, pertanian, perdagangan, hukum dan sastra. Bertambahnya keinginan akan pendidikan menyebabkan tumbuhnya universitas-universitas lain, seperti Universitas Iskandariyah di Iskandariyah dan Universitas 'Ain Syams (1950) di Cairo. Sampai saat ini masih tercatat berbagai universitas lain, seperti Universitas Mansyuriyah yang didirikan pada tahun 1972 (sebelumnya cabang Universitas Cairo), Universitas Tanta yang didirikan pada tahun 1972 (sebelumnnya cabang Universitas Iskandariyah), Universitas Hilwan, Universitas Assiut yang didirikan pada tahun 1957 serta Universitas Mania, Universitas Munafia dan Universitas Suez yang didirikan pada tahun 1976. Disamping itu ada pula Universitas Amerika yang disingkat AUC (The American University in Cairo) yang didirikan bagi pendidikan orang Mesir dengan tenaga pengajar dari Amerika sejak tahun 1928.
Demikianlah arti penting Mesir bagi perkembangan Islam dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, yang pada dasarnya disulut sejak masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, kemudian dikembangkan pada masa Muhammad Ali dan mencapai puncaknya di masa Muhammad Abduh. Bias dari revolusi ilmu pengetahuan ini ternyata bukan hanya terasa di Mesir, melainkan juga di seluruh dunia Islam. Dalam hal ini juga sangat penting peranan para mahasiswa dari seluruh pelosok dunia Islam yang meneruskan studinya di Universitas al-Azhar dan universitas-universitas lainnya. Setelah menyelesaikan studi, mereka kembali ke tempat asal untuk membawa ilmu pengetahuan ke tanah air masing-masing.
Bidang Media Massa dan Buku-Buku Keagamaan
Peranan Mesir dalam pengembangan Islam dalam bidang media massa dan buku-buku keagamaan sangat penting mengingat percetakan di negeri itu telah mencetak buku-buku agama yang ditulis para ulama dan pemikir-pemikir terkemuka. Selain itu Mesir juga mempunyai peranan dalam penerbitan surat kabar atau majalah yang disebarkan ke seluruh dunia Islam yang berisikan informasi tentang perkembangan Islam dan ilmu pengetahuan. Antara lain, Napoleon menerbitkan majalah Le Courrier d'Egypte dan La Degade Egyptienne sebagai media publikasi perkembangan ilmu pengetahuan. Muhammad Ali menerbitkan surat kabar al-Waqaa'ii al-Misriyah (peristiwa-peristiwa Mesir).
Bidang Arsitektur
Peranan Mesir juga dapat dilihat dari monumen-monumen peninggalannya yang mengandung nilai seni yang tinggi, antara lain al-Qashr al-Garb (Istana Barat), al-Qashr asy-Syarq (Istana Timur), Universitas al-Azhar, tembok yang mengelilingi istana dan pintu-pintu gerbang yang terkenal dengan nama Bab an-Nasr (Pintu Kemenangan) serta Bab al-Fath (Pintu Pembukaan). Disamping itu terdapat pula Masjid al-Azhar, Masjid Maqis, Masjid Rasyidah, Masjid Aqmar dan Masjid Shaleh.
Bidang Ekonomi Perdagangan
Mesir mempunyai peranan yang penting dalam dunia Islam. Peranan ini disebabkan oleh dua faktor yakni letak geografis yang sangat strategis dan kesuburan lembah Sungai Nil sebagai area pertanian. Letak Mesir yang strategis berada di pertemuan tiga benua, Afrika, Asia dan Eropa, menjadikannya pusat perdagangan yang penting sekali serta menjadikannya negeri kaya sejak masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, Ayubiyah dan zaman sultan-sultan Mamluk. Selama Mesir di bawah pemerintahan Islam, hasil negeri itu dibawa melalui Terusan Suez dan dari sana dibawa dengan unta ke tanah Arab. Pada sisi lain, negeri itu dihubungkan oleh kafilah dengan Afrika utara di sebelah barat dan dengan Suriah dan Irak di sebelah timur. Kapal-kapal yang melalui Terusan Suez membawa sutera, pala, cengkeh, kulit manis, merica, kemenyan, nila dan lain-lain dari India, Indonesia dan Yaman. Sampai masa pemerintahan khalifah Fatimiyah ke-8, al-Mustansir (1036-1094), Terusan Suez menjadi pintu perniagaan tanah Arab dengan negeri-negeri Timur. Pada masa selanjutnya jalur perniagaan pindah ke Izhab di pantai Laut Merah yang letaknya sejajar dengan Jiddah.
Barang-barang dagangan dari India, Indonesia dan negeri-negeri Timur Jauh dibawa melalui Teluk Persia ke Teluk Aden dan seterusnya melalui Laut Merah sampai ke Izhab. Dari sana barang dagangan dibawa dengan unta sampai ke Qaus, kemudian melalui Sungai Nil sampai ke Fustat. Kota Izhab menjadi jalan jemaah haji dan jalan perniagaan sampai perannya digantikan oleh Aden pada tahun 1359. Kapal-kapal dagang dari negeri-negeri Timur Jauh berlabuh di Aden dan muatannya dipindahkan dan diteruskan ke Suez dan ke Cairo; dari Cairo diteruskan lagi ke Iskandariyah melalui terusan yang digali di zaman Sultan Nasir Muhammad bin Qalawun.
Pada masa pemerintahan Bani Ayubiyah, perniagaan Mesir dengan luar negeri semakin maju karena dengan adanya Perang Salib negeri-negeri Islam timur mempunyai hubungan dagang dengan Eropa. Sultan-sultan Ayubiyah dan Mamluk berkuasa di Suriah dan menguasai kota-kota pelabuhan dan jalan-jalan kafilah antara Eropa dan India, Indonesia serta negara-negara lain di Timur. Saudagar-saudagar dari Genoa dan Venesia mengambil barang-barang perniagaan dari Iskandariyah, Beirut dan Iskandaronah untuk dibawa ke Italia, dan dari sana ke seluruh benua Eropa. Demikian juga pada masa pemerintahan raja-raja Mamluk, monopoli perniagaan Timur-Barat dikuasai Mesir karena kembalinya Mesir berkuasa atas Bandar Jiddah yang menggantikan kedudukan Aden sebagai bandar perniagaan Timur. Sebagai jalur perdagangan antara Timur dan Barat serta antara negeri-negeri Timur dan bangsa-bangsa Arab, disamping karena pertanian yang demikian baik, Mesir merupakan negara yang sangat kuat. Kekuatan Mesir itu sendiri merupakan sumbangan yang amat besar bagi perjuangan Islam secara keseluruhan.
Demikianlah Mesir sebagai suatu daerah Islam yang mempunyai peranan yang amat besar bagi pengembangan Islam baik dalam pengembangan daerah kekuasaan Islam, pengembangan ilmu pengetahuan bahkan alih ilmu dan teknologi dari Eropa, maupun peran ekonomi dan perdagangan.


Perekonomian Mesir
  • PertanianProduk pertanian Mesir adalah kapas, tebu, padi, jagung, gandum, gula, kurma dan minyak zaitun.
  • PeternakanSektor peternakan banyak diusahakan oleh penduduk nomaden yang berdiam di daerah gurun. Ternak yang dipelihara adalah jenis hewan ternak besar yaitu, domba, biri-biri, dan unta.
  • PertambanganSektor pertambangan juga mendukung perekonomian Mesir. Pertambangan di Mesir yang telah berkembang antara lain,adalah minyak bumi, fosfat, bijih besi, dan mangan.
  • PerindustrianIndustri utama Negara Mesir adalah tekstil. Saat ini Mesir sedang mengembangkan industri tekstil dengan bahan-bahan katun, wol, dan rayon. Industri lainnya adalah pupuk, semen, industri besi, baja,bahan kimia, dan mobil. Daerah perindustrian Negara Mesir terdapat di, Iskandariyah, Kairo, Delta Sungai Nil, dan lepas Pantai Sinai.
  • PedaganganPerekonomian Negara Mesir juga sangat tergantungpada aktivitas perdagangan. Mesir berusaha meningkatkan volume perdagangannya, sehingga devisit perdagangannya dapat diperkecil. Ekspor utama Mesir adalah minyak bumi, kapas, benang tenun, tekstil, fosfat, dan buah-buahan seperti kurma.
  • Pariwisata / TransportasiPada sektor ini, sangat besar pula peranannya pada perekonomian Mesir. Sektor transportasi misalnya berupa pendapatan dari yang diperoleh dari Terusan Suez, yang sangat membantu perekonomian Mesir.
Namun sayangnya Nilai pound Mesir terus menurun pada Rabu (02/01/2013 yang melemah menjadi 6,39 terhadap dolar AS atau turun dari 6,185 pada pekan lalu.

Setelah Hosni Mubarak dilengserkan, Bank Sentral Mesir menggunakan cadangan devisa untuk mempertahankan nilai tukar uang. Pada pekan lalu, pound menurun enam persen sejak 23 bulan terakhir.

Namun mereka tidak memiliki cadangan yang cukup untuk terus mempertahankan pound. Justru yang terjadi persediaan devisa terus berkurang dari 36 miliar dolar AS menjadi 15 miliar.
Nilai terakhir tidak akan mampu memenuhi kebutuhan impor 83 juta rakyat mesir dalam tiga bulan mendatang.

Penurunan cadangan devisa dan inflasi akan memperburuk kinerja pemerintahan Mursi yang sedang berusaha memperbaiki ekonomi yang hancur dalam dua tahun terakhir.
Mesir membutuhkan pinjaman luar negeri dari IMF meski harus ditempuh dengan membuat kebijakan kurang populer yaitu menaikkan pajak.

Morsi mengatakan semua pihak harus menyadari situasi ini dan bekerja melalui saluran yang demokratis dan menghindari cara-cara kekerasan.
Dalam pidato di majelis tinggi parlemen, Morsi juga mengatakan Mesir memerlukan konstitusi baru yang ia katakan memastikan perlakukan yang sama bagi semua warga negara di muka hukum.
Kelompok oposisi liberal menentang undang-undang dasar baru dengan alasan perangkat hukum tersebut tidak sepenuhnya menjamin hak perempuan dan kelompok-kelompok minoritas.


Sumber:
 http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/01/03/mg1niv-inflasi-bikin-ekonomi-mesir-terpuruk

http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/12/121229_morsi_ekonomi.shtml

2 komentar:

Poskan Komentar

Tolong beri komentar untuk membangun blog ini menjadi lebih baik lagi dan semakin bermanfaat. Terimakasih

 

Popular Posts

Popular Posts this month

Popular Posts this week