Translate

Rabu, 26 Februari 2014

Negara Paling Korup Di dunia saat ini



Organisasi non profit yang memiliki perhatian khusus dan kerap melakukan survei soal korupsi, Transparansi Internasional (TI), baru-baru ini mengeluarkan daftar terbaru indeks persepsi korupsi tahun 2013. Hasilnya Afganistan, Korea Utara dan Somalia, menjadi tiga negara terkorup tahun ini. 
Dan berdasarkan tabel yang dimuat di situs resmi TI, Indonesia berada di posisi ke-114 dengan indeks persepsi 32. Laman News Corporated Australia, Rabu 4 Desember 2013 melansir bahwa posisi Indonesia masih lebih baik ketimbang peringkat Rusia yang duduk di posisi 127 dengan indeks persepsi 28.

Namun, posisi Indonesia sangat jauh bila dibandingkan dengan posisi Singapura, yang menjadi satu-satunya negara Asia bertengger di posisi ke-5 dengan indeks persepsi 86. Menurut peneliti utama TI, Finn Heinrich, korupsi sangat melukai kaum miskin.

"Itulah yang Anda lihat ketika menyaksikan bagian paling bawah dari suatu negara. Selain merugikan negara, perbuatan korupsi juga menyengsarakan rakyat kecil," ungkap Heinrich.

Bahkan, kata Heinrich, negara-negara tersebut tidak akan bisa keluar dari jebakan kemiskinan, apabila pemerintahnya tidak mencoba menghadapi korupsi. Dari daftar yang dikeluarkan tahun 2013, indeks persepsi korupsi di negara konflik seperti Suriah, Libya dan Mali, mengalami penurunan yang drastis.
Negara-negara itu terjebak dalam kasus korupsi, lantaran tengah dirundung konflik militer dalam beberapa tahun terakhir. "Tindak korupsi sangat terkait dengan kejatuhan suatu negara seperti yang Anda saksikan pada Libya dan Suriah. Keduanya, menjadi negara yang paling banyak mengalami kehancuran,"terang Heinrich.

Heinrich menyebutkan bahwa negara-negara yang terbawah dalam survei ini adalah negara yang sistem pemerintahannya tidak berjalan secara efektif. Warga, lanjut Heinrich, berusaha melakukan apa pun, entah itu memperoleh layanan atau makanan, agar dapat bertahan hidup.

Pria asal Jerman itu, lantas mencontohkan Afganistan yang masuk dalam tiga posisi terbawah. Walau negara tersebut pernah dikungkung oleh rezim militer barat, NATO, selama satu dekade, namun tidak ada perbaikan nyata dari pengerahan tentara ke sana.

"Pihak barat berupaya tidak hanya berinvestasi di bidang keamanan di Afganistan, tetapi juga menegakkan aturan hukum. Namun, survei yang dilakukan baru-baru ini, menunjukkan bahwa jumlah warga penerima suap masih menjadi salah satu yang tertinggi di dunia," paparnya.

Sementara rendahnya indeks persepsi korupsi di Korut, lantaran peristiwa kemiskinan yang membelenggu sebagian besar rakyatnya. Kelaparan, ujar Heinrich, malah semakin menyuburkan aksi korupsi.

"Karena, ketika Anda kenal seseorang di partai yang korup, baru Anda dapat bertahan hidup," tutur Heinrich menggambarkan kehidupan di Korut.

Salah satu negara yang menunjukkan perkembangan berarti, yaitu Myanmar. Sebelumnya, mantan pemimpin junta militer telah membuka pintu bagi proses demokrasi dan langsung dilanda investasi besar-besaran. Pemerintah negara itu juga berkomitmen terhadap transparansi dan penegakkan hukum.

Tahun ini, TI melakukan survei terhadap 175 negara. Survei tersebut dibantu para ahli yang bekerja di beragam organisasi seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Afrika, Unit Intelijen Ekonomi, Bertelsmann Foundation, Freedom House dan kelompok lainnya. Peringkat negara diberikan skala 0-100. Di mana 0 berarti sektor publik di negara itu dianggap korup, sedangkan 100 dianggap paling bersih.

Hampir 70 persen dari negara-negara itu memiliki sebuah permasalahan yang serius terkait pelayanan publik. Dari 175 negara, tidak ada satu pun yang meraih angka sempurna 100.

Lima besar negara yang memperoleh angka 80 hingga 89 menunjukkan bagaimana transparansi mendukung akuntabilitas dan mampu menghentikan tindak korupsi. Kelima negara yang meraih skor tertinggi dalam indeks peringkat korupsi TI yaitu Denmark, Selandia Baru, Finlandia, Swedia, Norwegia dan Singapura.
Korupsi Merajalela di dunia ini dikarenakan tingkat persaingan kekayaan yang sangat tinggi. Bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di negara majau terutama di negara berkembang yang belum mempunyai SDM yang berkualitas secara intelektual dan secara religius. Oleh karenanya kita didik generasi muda kita secara menyeluruh, sehingga mereka menjadi orang yang jenius intelektualnya dan religiusnya.

Sumber: 

Semoga dapat bermanfaat dan Terimakasih telah berkunjung

0 komentar:

Poskan Komentar

Tolong beri komentar untuk membangun blog ini menjadi lebih baik lagi dan semakin bermanfaat. Terimakasih

 

Popular Posts

Popular Posts this month

Popular Posts this week