Translate

Selasa, 26 Maret 2013

Profil Lengkap Negara Amerika

0 komentar

Amerika Serikat adalah negara adi daya yang memainkan peran penting dalam tatanan dunia sejak sebelum PD I, PD II hingga dasa warsa terakhir. Amerika serikat tidak saja menjadi super power dalam bidang militer dan politik namun juga di bidang ekonomi dan teknologi. Negara ini terletak di Benua Amerika dan di kawasan Amerika Utara. Sebelah utara berbatasan dengan Kanada, Sebelah timur berbatasan dengan Samudera Atlantik, di bagian barat berbatasan dengan Samudera Pasifik dan di bagian selatan berbatasan dengan Mexico dan Laut Karibia.

   Amerika serikat atau sering di singkat USA atau US adalah sebuah negara berbentuk federal yang terdiri dari 50 negara bagian dan sebuah distrik federal. Sebanyak 48 negara terletak di Amerika Utasa, sementara Alaska terletak di sebelah barat Kanada dan Hawai terletak di Samudera Pasifik. Amerika Serikat juga memiliki negara koloni seperti Peurto Rico dan Guam yang tergabung dalam persemakmuran.


   Amerika Serikat awalnya adalah koloni Inggris (Britania Raya). Setelah ditemukannya Benua Amerika Oleh Amerigo Vespuci dan Colombus, maka kgelombang migrasi besar-besaran dari Eropa membanjiri tanah Amerika dan membentuk koloni-koloni sesuai negara asalnya di Eropa. Koloni terbesar saat itu milik Kerajaan Inggris sebanyak 13 koloni. 13 Koloni ini kemudian memerdekaan diri tanggal 4 Juli 1776 dengan tokoh-tokoh kemerdekaan George Whasington,John Adams, dan Thomas Jefferson. Setelah merdeka, negara baru ini kemudian melakukan ekspansi besar-besaran dengan membeli daerah Lousiana dari Prancis, Alaska dari Rusia, dan menganeksasi wilayah milik Mexico seperti New Mexico, Texas dan California. Amerika Serikat pernah mengalami perang saudara yang sangat besar antara wilayah utara yang ingin menghapus perbudakan dan wilayah selatan yang menganggap alasan tersebut hanya isu mengenai hak-hak negara bagian. Abraham Lincoln adalah tokoh Amerika yang berhasil menghentikan perang dan mempersatukan Amerika dari perpecahan.


   Amerika Serikat adalah negara terbesar ke empat di dunia setelah Rusia, RRC, dan Kanada. Jumlah penduduknya terbesar ketiga setelah Cina dan India. Di bidang ekonomi, Amerika merupakan negara industri maju dalam bidang otomotif, senjata, kimia, elektronik, pertanian, peternakan, penerbangan, dan jasa.  Sejak berakhirnya “perang dingin” Amerika Serikat menjelma menjadi kekuatan yang tidak ada penyeimbang dan menjadi satu-satunya dengara adidaya terutama dibidang militer. Hal ini sering menyebabkan Amerika berlaku sewenang-wenang terhadap negara lain seperti kasus invansi ke Afganistan dan Iraq pada awal tahun 2000. Sekutu terdekat Israel ini juga maju dalam ekspansi ke ruang angkasa. Melalui badan antariksa NASA, Amerika Serikat sering mengirimkan misi ruang angkasa dan berkali-kali menerbangkan pesawat ulang alik. Teknologi militer juga terus dikembangkan sehingga negara ini selalu memiliki persenjataan militer terbaru dan tercanggih.


     Amerika Serikat juga memainkan peran penting dalam Perang dunia I dan II, dan menjadi pihak yang bertanggungjawab melakukan pemboman nuklir Kota Hiroshima dan Nagasaki untuk mengakhiri Perang Dunia II. Pada era tahun 1960-an Amerika Serikat terlibat perang dingin dengan Uni Soviet. Perang dingin merupakan bentuk persaingan memperebutkan pengaruh idiologi di berbagai belahan dunia. Amerika mengusung idologi libeal dan Uni Soviet mengusung idiologi Komunis. Dalam Perang dingin Amerika membentuk pakta pertahanan NATO dan Uni Soviet membentuk pakta pertahanan Pakta Warsawa. Perlombaan senjatapun terjadi antara kedua blog negara ini. Namun setelah jatuhnya komunisme di Uni Soviet dan negara-negara komunis besar di dunia, kini Nato dan Amerika Serikat berkuasa penuh mengendalikan dunia. Pada tahun 1990-an, Amrika menobatkan dirinya sebagai polisi dunia dan aktif dalam penanganan perang Kosovo, Somalia, Liberia dan Perang Teluk I. Setelah serangan teroris pada 11 September 2001 di World Trade Center, Amerika Serikat gencar memerangi kelompok yang di anggapnya teroris hingga melakukan penyerangan ke Afghanistan dan menjatuhkan pemerintahan Taliban. Pada tahun 2003 Amerika Serikat juga melancarkan serangan ke Iraq  untuk meruntuhkan rezim Saddam Husein yang dianggap penentangnya. 
Serangan terhadap menara kembar World Trade Center mengubah tatanan dunia. Presiden George W Bush dengan lantang menyatakan perang global terhadap terorisme. Negara-negara di dunia yang tidak mau melakukan pembasmian terorisme di anggapnya “poros Setan”. Dampaknya setiap negara di dunia melakukan aksi pembasmian kelompok yang di anggap teroris menurut versi mereka termasuk Indonesia. Alasan terorisme juga dijadikan dasar George W Bush untuk menginvansi Iraq dan menggulingkan Saddam Husein awal tahun 2003.  Peristiwa WTC sebenarnya meninggalkan misteri yang sampai saat ini tidak terpecahkan atau mungkin sengaja ditutup-tutupi Amerika. Dalam peristiwa yang menewaskan sekitar 3000 jiwa itu, terdapat berbagai kejanggalan. Diantaranya sekitar 3000 orang Yahudi (Israel) tidak masuk kerja satu orangpun. Selain itu, sistem pertahanan Amerika serikat yang dikenal sangat canggih dengan mudah di bobol. Fakta-fakta tersebut sempat ramai dibicarakan, namun tidak ditindaklanjuti. 
Amerika Serikat saat dipimpin presiden kulit hitam pertama Barack Husein Obama.  Obama adalah presiden ke 44 yang menjabat sejak 20 Januari 2009 menggantikan George Walker Bush. Obama adalah keturunan Afro-Amerika. 
Data-Data Negara Amerika Serikat
Nama Negara
United States America (USA)
Bentuk pemerintahan
Federal
Kepala Negara
Presiden
Pemerintahan lokal
50 Negara bagian
Luas wilayah
9.629.091 km2
Jumlah penduduk (th 2010)
308.586.000
Suku Bangsa
Kulit putih/Eropa 79,96%, negro 12,85%, Asia 4,43%, Ameridian dan Alaska 0,97%, Hawai dan Pasifik 0,18% suku lainnya 1,61%
Agama
Protestan (51,3%), Katholik Roma (23,9%), Mormon 1,7%, kristen lainnya 1,6%, Yahudi 1,7%, Budha 0,7%, Islam 0,6% agama lain 18,6%
Bahasa
Inggris
Mata Uang
Dolar (US $)
Lagu kebangsaan
The Star Spangled Banner
Semboyan
In God We Trust
Hasil Industri
Senjata, baja, kimia, elektronik, pupuk, semen, otomotif,alat berat, makanan, jasa,alat transportasi
Hari kemerdekaan
4 Juli 1776
Penerbangan internasional
PANAIR

Presiden Amerika Serikat
No
Nama
Menjabat
1
1879-1797
2
1797-1801
3
1801-1809
4
1809-1817
5
1817-1825
6
1825-1829
7
1829-1837
8
1837-1841
9
1841
10
1841-1845
11
1845-1849
12
1849-1850
13
1850-1853
14
1853-1857
15
1857-1861
16
1861-1865
17
1865-1869
18
1869-1877
19
1877-1881
20
1881
21
1881-1885
22
1885-1889
23
1889-1893
24
1893-1897
25
1897-1901
26
1901-1909
27
1909-1913
28
Woodrow Wilson
1913-1921
29
1921-1923
30
1923-1929
31
1929-1933
32
1933-1945
33
1945-1953
34
1953-1961
35
1961-1963
36
1963-1969
37
1969-1974
38
1974-1977
39
1974-1981
40
1981-1989
41
1989-1993
42
1993-2001
43
2001-2009
44
2009-2013

Sejarah berdirinya negara Amerika Serikat (USA/United States of America) menarik untuk diketahui sebab Amerika adalah negara super power dunia yang menguasai perekonomian, militer, serta teknologi dunia.
Amerika Serikat terletak di tengah-tengah benua Amerika Utara, dibatasi oleh Kanada di sebelah utara dan Meksiko di sebelah selatan. Negara Amerika Serikat terbentang dari Samudera Atlantik di pesisir timur hingga Samudera Pasifik di pesisir barat, termasuk kepulauan Hawaii di lautan Pasifik, negara bagian Alaska di ujung utara benua Amerika, dan beberapa teritori lainnya.
Kenapa Amerika dijuluki sebagai negara “Paman Sam” (Uncle Sam) ?. Begini ceritanya, dahulu ada orang bernama Samuel Wilson. Ia dilahirkan di Arlington, tanggal 13 September 1766. Pada usia 14 tahun, ia menjadi sukarelawan pejuang bagi negaranya. Setelah dewasa, ia membuka usaha kemasan daging di New York. Ia menyuplai bertong-tong daging bagi tentara AS dalam Perang 1812.
Pada tahun 1812 jumlah barang untuk tentara dibeli di Troy, NY, oleh Elbert Anderson, seorang kontraktor pemerintah. Barang diperiksa oleh dua bersaudara, Ebenezer dan Samuel Wilson. Samuel Wilson sering dipanggil “Uncle Sam” oleh temannya. Setiap paket ditandai inisial E.A.-U.S. Pada saat dimintai arti inisial ini, pekerja yang bercanda menjawab bahwa EA adalah Elbert Anderson dan US adalah Paman Sam yang seharusnya adalah United States. Jadi judul menjadi populer di kalangan para pekerja, tentara, dan orang-orang, dan Pemerintah Amerika Serikat sekarang dikenal sebagai “Paman Sam”
Kisah diatas akhirnya di tulis dalam sebuah koran. Pada 1860-an dan 1870-an, kartunis politis Thomas Nast mulai mempopulerkan gambar Paman Sam. Nast mengembangkan gambar tersebut dengan memberikan Paman Sam janggut putih dan pakaian yang bermotifkan bintang dan garis. Nast juga-lah yang menciptakan citra Sinterklas dan gajah sebagai simbol Partai Republik. Pada September 1961 Kongres AS mengakui Samuel Wilson sebagai cikal bakal symbol nasional Amerika.
Paman Sam Wilson dianggap sebagai tokoh teladan tentang seorang wiraswasta yang suka bekerja keras dan cinta kepada tanah airnya. Wilson wafat di usia 88 tahun pada 1854 dan dimakamkan di Pemakaman Oakwood di Troy, New York. Kota itu mendapat sebutan ‘Rumah Paman Sam.’ Akhirnya , nama Paman Sam secara resmi dipakai untuk julukan negara Amerika. Orang-orang Amerika sekarang bangga dengan julukan dan citra yang dimiliki Paman Sam.



Kegiatan Ekonomi
a. Pertanian
            Sebagai negara kontinental, Amerika Serikat mempunyai lahan yang masih sangat luas, bahkan dapat dikatakan hampir 47% lahan di Amerika Serikat masih digunakan untuk lahan pertanian.
Dalam pelaksanaannya, lahan-lahan tersebut dikonsentrasikan dalam beberapa produk unggulan, seperti berikut ini.
a) Kawasan lahan gandum yang disebut wheat belt, dapat dibedakan atas gandum musim dingin (winter wheat) yang terletak di daerah Kansas dan gandum musim semi (spring wheat) yang terletak di Montana, North Dakota, dan South Dakota.
b) Kawasan lahan kapas yang disebut cotton belt dan merupakan penghasil kapas terbesar di dunia, terdapat di Texas, Alabama, Georgia, dan Lousiana.
c) Kawasan lahan jagung yang disebut corn belt, terletak di daerah Ohio, Iowa, Minnesotta, Missouri, dan Indiana.
Selain pola pertanian per kawasan tersebut, Amerika Serikat juga mengembangkan pertanian secara umum, seperti perkebunan tembakau di Tennesse dan Virginia, perkebunan tebu di muara Sungai Mississippi, serta sayuran dan buah-buahan.
b. Perindustrian
Perindustrian telah berkembang dan bahkan saat ini dapat dikatakan sebagai tulang punggung perekonomian di Amerika Serikat.
Berikut ini beberapa industri besar di Amerika Serikat.
a) Industri baja di Pittsburgh, Chicago, Birmingham, dan Cleveland.
b) Industri kilang minyak di Texas dan Oklahoma.
c) Industri tembaga di Montana.
d) Industri tekstil di Georgia dan Carolina.
e) Industri pesawat terbang, mobil, dan peralatan militer di Seatle dan Los Angeles.
f) Industri mesin pertanian di Waterivo.
g) Industri wol dan sutra di Pensylvania, Massachussets, New
Jersey, dan South Carolina.
c.       Pertambangan
Bidang pertambangan merupakan salah satu kegiatan yang telah lama dikembangkan di Amerika Serikat. Dengan kemampuan sumber daya manusia dan peralatan modern yang dimilikinya, Amerika Serikat mampu mengolah sendiri kekayaan alamnya.
Berikut ini beberapa bahan mineral utama di Amerika Serikat.
a) Batubara; merupakan bahan tambang mineral terbesar di Amerika Serikat. Lokasi penambangannya membentang dari Alabama hingga Pensylvania.
b) Minyak bumi; cadangan minyak bumi Amerika Serikat juga tergolong besar, daerah pertambangannya tersebar di Ohio, Texas, Oklahoma, Pensylvania, dan California.
c) Bijih besi; banyak diusahakan di sepanjang Pegunungan Mesabi (Mesabi Range) di dekat Danau Superior.
d) Emas; terdapat di Nevada, Sacramento, dan Colorado.
e) Tembaga, timah, dan bouksit; banyak diusahakan di Arkansas, Arizona, dan Montana.

d.      Peternakan dan Perikanan
Peternakan sangat maju dan telah lama dikembangkan di Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan Amerika Serikat banyak memiliki area padang rumput (praire) yang sangat luas. Adapun hewan ternak utama adalah sapi, kuda, biri-biri, babi, dan unggas. Hasil ternak utama adalah daging, kulit, wol, susu, dan telur. Adapun perikanan diusahakan secara besar-besaran di wilayah Samudra Atlantik.
e.Perdagangan
perkembangan yang sangat pesat. Hampir semua negara di dunia ini menjalin hubungan Sebagai negara yang menganut paham ekonomi kapitalis dan perdagangan bebas, bidang perdagangan mengalami dagang dengan Amerika Serikat.
Amerika Serikat mengekspor mesin-mesin, otomotif, pesawat terbang, barang elektronika, bahanbahan makanan dan minuman olahan, persenjataan, alat-alat kedokteran, bahan-bahan kimia, dan obatobatan, serta masih banyak lagi. Adapun impor Amerika Serikat terutama berasal dari negara-negara sedang berkembang berupa bahan-bahan baku industri, seperti minyak dan gas, kayu, kopi, gula, karet, dan berbagai bahan baku industri lainnya.

Kota Kota Penting
Sebagai negara maju yang sangat dominan di percaturan dunia, Amerika Serikat memiliki banyak kota terkenal. Beberapa kota terkenal tersebut, antara lain berikut ini.
a) Washington, D.C., merupakan pusat kendali pemerintahan Amerika Serikat sekaligus letak istana kepresidenan.
b) New York, merupakan kota terbesar sebagai pusat perdagangan dunia, di kota ini berdiri gedung pusat perdagangan dunia (World Trade Center Building/WTC) dan pusat pasar bursa dunia (The New York Stock Exchange/NYSE). Di kota ini juga terdapat markas besar PBB.
c) Los Angeles, merupakan kota terbesar kedua dan berperan sebagai kota pusat industri perakitan, komunikasi, keuangan, dan busana. Lalu lintas pelabuhan udaranya merupakan yang terpadat di Amerika Serikat. Kota ini juga merupakan pusat industri pesawat terbang dan perlengkapan militer.
d) Chicago, merupakan kota terbesar ke tiga. Kota ini dikenal sebagai pusat pemotongan hewan ternak, pusat pengecoran logam dan baja, produsen alat-alat kedokteran, perlengkapan perkeretaapian, sabun, cat, kosmetika, mesin-mesin industri, dan perlengkapan olah raga.
e) Philadelphia, pusat industri kimia, obat-obatan, pengolahan makanan, dan barang-barang cetakan. Kota ini juga terkenal karena kemajuannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mengantarkan Philadelphia sebagai kota pusat industri kesehatan utama di Amerika Serikat.

Aspek Ekonomi
AS menjalankan sistem ekonomi kapitalis. Pertumbuhan ekonomi negara ini kokoh di permukaannya, pengangguran dan inflasi rendah, dan defisit perdagangan yang rendah (berarti AS membeli lebih banyak barang dari negara lain daripada menjual).
Ekonomi AS ialah salah satu yang terpenting di dunia. Banyak negara telah menjadikan dolar AS sebagai tolok ukurmata uangnya, artinya berharga atau tidaknya mata uang mereka ditentukan oleh dolar. Sejumlah negara menggunakan dolar sebagai mata uangnya. Bursa saham AS dipandang sebagai indikator ekonomi dunia.
Negara ini memiliki banyak sumber daya mineral, seperti emasminyakbatu bara dan endapan uraniumPertanianmembuat negara ini berada di antara produsen utama, di antara lainnya, jagunggandumgula dan tembakau. AS memproduksimobilpesawat terbang dan benda elektronik. Sekitar 3/4 of penduduk AS bekerja di industri jasa.
Mitra dagang AS adalah:
  • Kanada
  • Meksiko
  • Negara Eropa
  • Negara industri Asia, seperti JepangTaiwanIndiaKorea Selatan, dan Republik Rakyat Cina

Kedudukan Alam
a. Pegunungan
Bagian barat : Pegunungan Rocky, Pegunungan Sierra Nevada, dan pegunungan Andes.
Bagian timur : Pegunungan Appalachi dan Pegunungan Alleghany.
b. Dataran Tinggi
Bagian Utara               : Dataran Tinggi Labrador
Bagian Selatan            : Dataran Tinggi Brazil
Bagian Timur              :  Dataran Tinggi Venezuela
c. Sungai
Sungai Misouri, Sungai ohio, Sungai Tennese, Sungai Missisipi, dan Sungai Amazon.
d. Danau
Danau Ontario, Danau Fire, Danau Michigan, dan Danau Superior.
e. Iklim
Iklim Sedang   : Sebagian besar Amerika Utara dan Bagian Selatan
  Amerika Selatan.
Iklim Gurun    : Sekitar Pegunungan Rocky, Pegunungan Andes, dan Plato 
  Colorado.
Iklim Dingin   : Kanada dan Alaska
Iklim Tropis    : Meksiko seluruh bagian tengah Benua Amerika, dan Besar  
  Amerika Selatan.

f. Penduduk
Penduduk Asli : Suku Indian dan Eskimo
Penduduk Pendatang: Kaum Imigran dari berbagai utara
g. Flora dan Fauna
1. Flora
          Variasi iklim yang berbeda- beda di Benua Amerika sangat berpengaruh terhadap keadaan flora yang ada. Jenis-jenis flora yang ada di Amerika Utara tepatnya Negara Amerika Serikat adalah : 
            Tumbuhan di daerah kutub berupa tumbuhan tundra dan bergeser ke arah selatan berupa hutan konifera atau hutan berdaun jarum dan padang rumput (prairi).
2. Fauna 
Di kawasan Amerika Utara didominasi oleh bison, beruang kutub, penguin, dan ikan salmon.(Encarta Encyclopedia,2006)

Letak dan Luas Negara
            Wilayah amerika serikat terdiri atas wilayah daratan utama yang terletak diantara kanada dan meksiko, Alaska diutara kanada dan kepulauan hawai di samudra pasifik batas wilayah daratan Amerika Serikat adalah sebagai berikut :

a.       batas sebelah utara : kanada
b.      batas sebelah selatan : meksiko dan teluk meksiko
c.       batas sebelah timur : samudra atlatik
d.      batas sebelah barat :samudra pasifik

           Amerika Serikat merupakan negara terbesar keempat di bumi baik menurut luas wilayah maupun jumlah penduduknya. Amerika serikat terdiri dari 50 negara bagian dan beribukota di Washington D.C.

Aspek Penduduk
Pada tahun 2008, jumlah penduduknya 293.027.570 jiwa. Pertumbuhan penduduknya adalah 0,6% per tahun, dan kepadatan penduduknya 44 jiwa/km². Penduduk aslinya adalah orang Indian yang berkulit merah. Mayoritas penduduk Amerika serikat adalah orang emigran yang berasal dari benua Eropa antara lain Perancis, Inggris, Belanda, Spanyol, dan Swedia.
2.3.1 Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia (atau dalam bahasa Inggris: Human Development Index) adalah pengukuran perbandingan dari:

1. harapan hidup
2. melek huruf
3. pendidikan, dan
4. standar hidup

           Ini berlaku untuk semua negara seluruh dunia. Selain itu, IPM berfungsi untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.
Menurut IPM (2007 | Dirilis: Oktober 2009) Amerika Serikat berada diurutan ke 13 Negara Maju (pembangunan manusia yang tinggi). Dengan nilai  0.956.

Baca Selengkapnya >>

Profil Negara Dubai

0 komentar
DUBAI, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak bermimpi ingin mengunjunginya. Kini Dubai menawarkan menjadi tempat kediaman nyaman anda.
Itu salah satu bunyi iklan promosi yang menawarkan megaproyek terpadu di teluk Nakheel–Dubai, meliputi perhotelan, pusat perbelanjaan, restoran, pusat hiburan, perkantoran, dan perumahan. Iklan promosi itu dipasang pada harian berbahasa Arab, Asharq al Awsat dan Al Hayat .Iklan yang sama minimal muncul sekali dalam sepekan pada dua harian yang sama itu. Dua harian tersebut dikenal memiliki pangsa pasar di seluruh dunia Arab dan bahkan mencapai Eropa dan Amerika Utara.Strategi pemasangan iklan pada dua harian yang beredar di seluruh negara Arab itu tentu untuk menjaring peminat, tidak hanya di Dubai sendiri, tetapi semua warga Arab dan asing di mana pun berada. Fasilitas yang ditawarkan memang sangat menggiurkan, seperti pembayaran uang muka hanya 5 persen dan sisanya bisa dicicil dan bisa dibeli oleh siapa pun baik warga Uni Emirat Arab sendiri atau warga asing.Halaman berbagai koran dan majalah di Timur Tengah sering kali diwarnai pula oleh iklan beragam proyek properti di Dubai dan kota-kota lain di Uni Emirat Arab (UEA)."Tidak ada seorang pun yang mengunjungi kota Dubai, kecuali mendapatkan hal yang baru. Tidak ada hari di Dubai tanpa ada sesuatu yang baru. Kota Dubai yang kecil secara geografis kini telah mencengangkan dunia dalam perencanaan pembangunan kota". Itu lagi bunyi iklan harian terkemuka Mesir Al Ahram dalam rubrik wisata edisi hari Kamis yang juga punya pangsa pasar, selain di dunia Arab, juga ke Eropa dan Amerika.Gencarnya gerakan pembangunan yang bernilai puluhan miliar dollar AS membuat volume pertumbuhan kota Dubai selama tiga tahun terakhir ini paling cepat kedua di dunia, setelah kota Shanghai di China. Hal itu membuat menarik investor Arab dan asing dari berbagai penjuru dunia menanamkan investasinya di Dubai.Diprediksi nilai investasi pada sektor properti di Dubai akan naik tajam dari 30 miliar dollar AS pada tahun 2005 menjadi 50 miliar dollar AS pada tahun 2010. Sejak peristiwa teror 11 September (9/11), sebagian besar investasi negara-negara Arab dialihkan ke kawasan Timur Tengah sendiri. Dubai adalah salah satu tujuan investasi pengalihan tersebut dengan meroketnya investasi Arab Saudi di sektor properti. Investor utama dalam industri properti Dubai adalah Arab Saudi dengan nilai investasi sebesar 7 miliar dollar AS, kemudian Kuwait dan Qatar serta beberapa negara Timur Tengah lainnya, Eropa dan Amerika Serikat. Naiknya harga minyak dunia merupakan salah satu penyebab makin derasnya arus investasi negara produsen minyak ke Dubai, terutama dari negara-negara Teluk.Proyek properti besar yang saat ini tengah berlangsung pembangunannya adalah Business Bay (kawasan bisnis)
Dubailand (pusat perbelanjaan, hiburan, dan hunian yang menelan dana 5 miliar dollar AS)






serta lima proyek reklamasi laut lepas pantai seluas 170 juta meter persegi dengan nilai proyek lebih dari 10 miliar dollar AS, yaitu
serta lima proyek reklamasi laut lepas pantai seluas 170 juta meter persegi dengan nilai proyek lebih dari 10 miliar dollar AS, yaitu
serta lima proyek reklamasi laut lepas pantai seluas 170 juta meter persegi dengan nilai proyek lebih dari 10 miliar dollar AS, yaitu

serta Dubai Tower Centre
Dan masih bbuaaanyak mega proyek yang lain.
Biaya proyek pembangunan perkampungan satelit di lepas pantai Dubai mencapai 20 miliar dollar AS. Proyek di Teluk Nakheel bernilai 25 miliar dollar AS, proyek bandara Internasional Jebel Ali bernilai 10 miliar dollar AS, proyek perluasan bandara internasional Dubai bernilai 5 miliar dollar AS, berbagai proyek yang digarap PT Dubai properti bernilai 5 miliar dollar AS.
Pertumbuhan sektor perhotelan di Dubai cukup mencengangkan pula yang kini sudah melebihi kota Cairo di Mesir. Di Dubai terdapat 23.000 kamar hotel dan pada tahun 2008 akan mencapai 50.000 kamar. Kini telah direncanakan bisa mencapai 100 kamar hotel dalam lima tahun mendatang. Tingkat hunian kamar sepanjang tahun rata-rata mencapai 90 persen dan bisa lebih dari 100 persen pada saat terdapat konferensi atau pameran internasional. Harga kamar hotel rata-rata 200 dollar AS per malam, dan pada saat-saat tertentu bisa naik 300 dollar AS.
Jumlah hotel bintang lima di Dubai sebanyak 35 hotel dengan kapasitas 10.564 kamar, hotel bintang empat sebanyak 31 hotel dengan kapasitas 4.725 kamar, hotel bintang tiga sebanyak 42 hotel dengan kapasitas 4.437 kamar, hotel bintang dua sebanyak 44 hotel dengan kapasitas 2.861 kamar, hotel bintang satu sebanyak 83 hotel dengan kapasitas 2.818 kamar.

Menurut Direktur Eksekutif Bank Dubai Ziyad Makawi, pasar properti di Dubai mengalami dinamika luar biasa, di mana permintaan masih jauh lebih besar dari penawaran. Pemerintah lokal Dubai tahun 2004 mengeluarkan 12.000 izin pendirian perusahaan dalam berbagai bidang, dengan rincian sebagian untuk cabang perusahaan yang sudah ada dan sebagian lain untuk perusahaan baru yang pertama kali beroperasi di Dubai.

Pasar properti di Dubai dalam satu pekan saja pada pertengahan bulan Mei mencapai nilai 441 juta dirham atau sekitar 125 juta dollar AS. Gedung-gedung pencakar langit memperoleh tingkat penjualan paling tinggi yang akan merangsang pada investor untuk membangun gedung pencakar langit dengan fasilitas yang konprehensif.

Harga tanah mengalami kenaikan cukup signifikan antara 20 persen dan 30 persen sejak awal tahun 2005, yang membuat biaya pembangunan dan penjualan atau persewaan ikut naik pula. Permintaan jauh lebih tinggi dari penawaran, khususnya di sektor perkantoran, yang memaksa banyak perusahaan atau perorangan membuka kantor atau memilih tempat tinggal di kota Sharjah yang bertetangga dengan Dubai. Di kota Sharjah, harga rumah atau kantor relatif lebih murah dan mudah mendapatkan dibandingkan di Dubai.

Kekurangan lahan perkantoran di Dubai saat ini karena perusahaan properti kini banyak konsentrasi pada pembangunan perubahan yang dianggap lebih menguntungkan. Menurut para broker properti di Dubai, harga sewa kantor sangat mahal dan akan terus naik jika permintaan tetap lebih tinggi dari penawaran. Dalam peta properti di Dubai memang direncanakan dibangun puluhan gedung pencakar langit untuk perkantoran, namun gedung-gedung tersebut bisa siap pakai minimal butuh waktu tiga tahun lagi. Dari puluhan gedung itu, sebanyak 22 gedung pencakar langit akan dibangun perusahaan-perusahaan swasta di kawasan bebas media dan teknologi Dubai.
Penjualan tanah di Emirat Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mengalami kenaikan tajam yang membuat harga tanah naik secara signifikan, bahkan mencapai 100 persen dari masa yang sama pada tahun 2004 dan 300 persen dari masa yang sama pada tahun 2003.
Nilai penjualan tanah di Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mencapai 4.965 miliar dirham atau sekitar 1,25 miliar dollar AS, sedangkan pada masa yang sama tahun 2004 hanya mencapai 2,605 miliar dirham atau sekitar 600 juta dollar AS, pada masa yang sama tahun 2003 hanya mencapai 1,609 miliar dirham atau sekitar 350 juta dollar AS.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya booming pada properti Dubai adalah keyakinan konsumen lokal yang tinggi walaupun bursa saham melemah minggu lalu, penambahan jumlah penduduk yang cepat yaitu lebih dari 1,5 juta dengan pertambahan sekitar 250.000 orang tahun 2004, tingkat keyakinan pembeli asing yang kuat terutama dari Inggris, Jerman dan Rusia, kenaikan gaji sektor swasta dan pemerintah sebesar 25 persen untuk penduduk lokal dan 6 persen untuk kaum ekspatriat swasta, perkembangan real estat dunia dan posisi nilai tukar dollar AS yang cenderung lemah dibandingkan euro dan poundsterling. Peraturan mengenai diperbolehkannya orang asing untuk membeli rumah dan apartemen dengan tingkat kepemilikan 100 persen yang mulai dijalankan sejak tahun 2002 merupakan salah satu faktor pendukung lainnya dalam perkembangan sektor properti.

Di atas semua faktor tersebut, prestasi paling penting yang telah dicapai dan berhasil dipertahankan hingga saat ini oleh Pemerintah Dubai dan UEA adalah stabilitas keamanan yang terjaga, tersedianya infrastruktur modern dan dunia usaha yang berjalan menggunakan aturan bisnis standar internasional, serta konsistensi pemerintah dalam mengupayakan penegakan hukum.

Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.


Sejarah Negara Dubai
Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.

Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya.
Jumlah hotel bintang lima di Dubai sebanyak 35 hotel dengan kapasitas 10.564 kamar, hotel bintang empat sebanyak 31 hotel dengan kapasitas 4.725 kamar, hotel bintang tiga sebanyak 42 hotel dengan kapasitas 4.437 kamar, hotel bintang dua sebanyak 44 hotel dengan kapasitas 2.861 kamar, hotel bintang satu sebanyak 83 hotel dengan kapasitas 2.818 kamar.
Menurut Direktur Eksekutif Bank Dubai Ziyad Makawi, pasar properti di Dubai mengalami dinamika luar biasa, di mana permintaan masih jauh lebih besar dari penawaran. Pemerintah lokal Dubai tahun 2004 mengeluarkan 12.000 izin pendirian perusahaan dalam berbagai bidang, dengan rincian sebagian untuk cabang perusahaan yang sudah ada dan sebagian lain untuk perusahaan baru yang pertama kali beroperasi di Dubai.

Pasar properti di Dubai dalam satu pekan saja pada pertengahan bulan Mei mencapai nilai 441 juta dirham atau sekitar 125 juta dollar AS. Gedung-gedung pencakar langit memperoleh tingkat penjualan paling tinggi yang akan merangsang pada investor untuk membangun gedung pencakar langit dengan fasilitas yang konprehensif.

Harga tanah mengalami kenaikan cukup signifikan antara 20 persen dan 30 persen sejak awal tahun 2005, yang membuat biaya pembangunan dan penjualan atau persewaan ikut naik pula. Permintaan jauh lebih tinggi dari penawaran, khususnya di sektor perkantoran, yang memaksa banyak perusahaan atau perorangan membuka kantor atau memilih tempat tinggal di kota Sharjah yang bertetangga dengan Dubai. Di kota Sharjah, harga rumah atau kantor relatif lebih murah dan mudah mendapatkan dibandingkan di Dubai.

Kekurangan lahan perkantoran di Dubai saat ini karena perusahaan properti kini banyak konsentrasi pada pembangunan perubahan yang dianggap lebih menguntungkan. Menurut para broker properti di Dubai, harga sewa kantor sangat mahal dan akan terus naik jika permintaan tetap lebih tinggi dari penawaran. Dalam peta properti di Dubai memang direncanakan dibangun puluhan gedung pencakar langit untuk perkantoran, namun gedung-gedung tersebut bisa siap pakai minimal butuh waktu tiga tahun lagi. Dari puluhan gedung itu, sebanyak 22 gedung pencakar langit akan dibangun perusahaan-perusahaan swasta di kawasan bebas media dan teknologi Dubai.
Penjualan tanah di Emirat Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mengalami kenaikan tajam yang membuat harga tanah naik secara signifikan, bahkan mencapai 100 persen dari masa yang sama pada tahun 2004 dan 300 persen dari masa yang sama pada tahun 2003.
Nilai penjualan tanah di Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mencapai 4.965 miliar dirham atau sekitar 1,25 miliar dollar AS, sedangkan pada masa yang sama tahun 2004 hanya mencapai 2,605 miliar dirham atau sekitar 600 juta dollar AS, pada masa yang sama tahun 2003 hanya mencapai 1,609 miliar dirham atau sekitar 350 juta dollar AS.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya booming pada properti Dubai adalah keyakinan konsumen lokal yang tinggi walaupun bursa saham melemah minggu lalu, penambahan jumlah penduduk yang cepat yaitu lebih dari 1,5 juta dengan pertambahan sekitar 250.000 orang tahun 2004, tingkat keyakinan pembeli asing yang kuat terutama dari Inggris, Jerman dan Rusia, kenaikan gaji sektor swasta dan pemerintah sebesar 25 persen untuk penduduk lokal dan 6 persen untuk kaum ekspatriat swasta, perkembangan real estat dunia dan posisi nilai tukar dollar AS yang cenderung lemah dibandingkan euro dan poundsterling. Peraturan mengenai diperbolehkannya orang asing untuk membeli rumah dan apartemen dengan tingkat kepemilikan 100 persen yang mulai dijalankan sejak tahun 2002 merupakan salah satu faktor pendukung lainnya dalam perkembangan sektor properti.


Di atas semua faktor tersebut, prestasi paling penting yang telah dicapai dan berhasil dipertahankan hingga saat ini oleh Pemerintah Dubai dan UEA adalah stabilitas keamanan yang terjaga, tersedianya infrastruktur modern dan dunia usaha yang berjalan menggunakan aturan bisnis standar inter
nasional, serta konsistensi pemerintah dalam mengupayakan penegakan hukum.

Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.


Sejarah Negara Dubai
Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Menurut Direktur Eksekutif Bank Dubai Ziyad Makawi, pasar properti di Dubai mengalami dinamika luar biasa, di mana permintaan masih jauh lebih besar dari penawaran. Pemerintah lokal Dubai tahun 2004 mengeluarkan 12.000 izin pendirian perusahaan dalam berbagai bidang, dengan rincian sebagian untuk cabang perusahaan yang sudah ada dan sebagian lain untuk perusahaan baru yang pertama kali beroperasi di Dubai.
Pasar properti di Dubai dalam satu pekan saja pada pertengahan bulan Mei mencapai nilai 441 juta dirham atau sekitar 125 juta dollar AS. Gedung-gedung pencakar langit memperoleh tingkat penjualan paling tinggi yang akan merangsang pada investor untuk membangun gedung pencakar langit dengan fasilitas yang konprehensif.


Harga tanah mengalami kenaikan cukup signifikan antara 20 persen dan 30 persen sejak awal tahun 2005, yang membuat biaya pembangunan dan penjualan atau persewaan ikut naik pula. Permintaan jauh lebih tinggi dari penawaran, khususnya di sektor perkantoran, yang memaksa banyak perusahaan atau perorangan membuka kantor atau memilih tempat tinggal di kota Sharjah yang bertetangga dengan Dubai. Di kota Sharjah, harga rumah atau kantor relatif lebih murah dan mudah mendapatkan dibandingkan di Dubai.


Kekurangan lahan perkantoran di Dubai saat ini karena perusahaan properti kini banyak konsentrasi pada pembangunan perubahan yang dianggap lebih menguntungkan. Menurut para broker properti di Dubai, harga sewa kantor sangat mahal dan akan terus naik jika permintaan tetap lebih tinggi dari penawaran. Dalam peta properti di Dubai memang direncanakan dibangun puluhan gedung pencakar langit untuk perkantoran, namun gedung-gedung tersebut bisa siap pakai minimal butuh waktu tiga tahun lagi. Dari puluhan gedung itu, sebanyak 22 gedung pencakar langit akan dibangun perusahaan-perusahaan swasta di kawasan bebas media dan teknologi Dubai.

Penjualan tanah di Emirat Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mengalami kenaikan tajam yang membuat harga tanah naik secara signifikan, bahkan mencapai 100 persen dari masa yang sama pada tahun 2004 dan 300 persen dari masa yang sama pada tahun 2003.

Nilai penjualan tanah di Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mencapai 4.965 miliar dirham atau sekitar 1,25 miliar dollar AS, sedangkan pada masa yang sama tahun 2004 hanya mencapai 2,605 miliar dirham atau sekitar 600 juta dollar AS, pada masa yang sama tahun 2003 hanya mencapai 1,609 miliar dirham atau sekitar 350 juta dollar AS.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya booming pada properti Dubai adalah keyakinan konsumen lokal yang tinggi walaupun bursa saham melemah minggu lalu, penambahan jumlah penduduk yang cepat yaitu lebih dari 1,5 juta dengan pertambahan sekitar 250.000 orang tahun 2004, tingkat keyakinan pembeli asing yang kuat terutama dari Inggris, Jerman dan Rusia, kenaikan gaji sektor swasta dan pemerintah sebesar 25 persen untuk penduduk lokal dan 6 persen untuk kaum ekspatriat swasta, perkembangan real estat dunia dan posisi nilai tukar dollar AS yang cenderung lemah dibandingkan euro dan poundsterling. Peraturan mengenai diperbolehkannya orang asing untuk membeli rumah dan apartemen dengan tingkat kepemilikan 100 persen yang mulai dijalankan sejak tahun 2002 merupakan salah satu faktor pendukung lainnya dalam perkembangan sektor properti.


Di atas semua faktor tersebut, prestasi paling penting yang telah dicapai dan berhasil dipertahankan hingga saat ini oleh Pemerintah Dubai dan UEA adalah stabilitas keamanan yang terjaga, tersedianya infrastruktur modern dan dunia usaha yang berjalan menggunakan aturan bisnis standar internasional, serta konsistensi pemerintah dalam mengupayakan penegakan hukum.

Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.


Sejarah Negara Dubai

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Pasar properti di Dubai dalam satu pekan saja pada pertengahan bulan Mei mencapai nilai 441 juta dirham atau sekitar 125 juta dollar AS. Gedung-gedung pencakar langit memperoleh tingkat penjualan paling tinggi yang akan merangsang pada investor untuk membangun gedung pencakar langit dengan fasilitas yang konprehensif.
Harga tanah mengalami kenaikan cukup signifikan antara 20 persen dan 30 persen sejak awal tahun 2005, yang membuat biaya pembangunan dan penjualan atau persewaan ikut naik pula. Permintaan jauh lebih tinggi dari penawaran, khususnya di sektor perkantoran, yang memaksa banyak perusahaan atau perorangan membuka kantor atau memilih tempat tinggal di kota Sharjah yang bertetangga dengan Dubai. Di kota Sharjah, harga rumah atau kantor relatif lebih murah dan mudah mendapatkan dibandingkan di Dubai.


Kekurangan lahan perkantoran di Dubai saat ini karena perusahaan properti kini banyak konsentrasi pada pembangunan perubahan yang dianggap lebih menguntungkan. Menurut para broker properti di Dubai, harga sewa kantor sangat mahal dan akan terus naik jika permintaan tetap lebih tinggi dari penawaran. Dalam peta properti di Dubai memang direncanakan dibangun puluhan gedung pencakar langit untuk perkantoran, namun gedung-gedung tersebut bisa siap pakai minimal butuh waktu tiga tahun lagi. Dari puluhan gedung itu, sebanyak 22 gedung pencakar langit akan dibangun perusahaan-perusahaan swasta di kawasan bebas media dan teknologi Dubai.

Penjualan tanah di Emirat Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mengalami kenaikan tajam yang membuat harga tanah naik secara signifikan, bahkan mencapai 100 persen dari masa yang sama pada tahun 2004 dan 300 persen dari masa yang sama pada tahun 2003.

Nilai penjualan tanah di Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mencapai 4.965 miliar dirham atau sekitar 1,25 miliar dollar AS, sedangkan pada masa yang sama tahun 2004 hanya mencapai 2,605 miliar dirham atau sekitar 600 juta dollar AS, pada masa yang sama tahun 2003 hanya mencapai 1,609 miliar dirham atau sekitar 350 juta dollar AS.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya booming pada properti Dubai adalah keyakinan konsumen lokal yang tinggi walaupun bursa saham melemah minggu lalu, penambahan jumlah penduduk yang cepat yaitu lebih dari 1,5 juta dengan pertambahan sekitar 250.000 orang tahun 2004, tingkat keyakinan pembeli asing yang kuat terutama dari Inggris, Jerman dan Rusia, kenaikan gaji sektor swasta dan pemerintah sebesar 25 persen untuk penduduk lokal dan 6 persen untuk kaum ekspatriat swasta, perkembangan real estat dunia dan posisi nilai tukar dollar AS yang cenderung lemah dibandingkan euro dan poundsterling. Peraturan mengenai diperbolehkannya orang asing untuk membeli rumah dan apartemen dengan tingkat kepemilikan 100 persen yang mulai dijalankan sejak tahun 2002 merupakan salah satu faktor pendukung lainnya dalam perkembangan sektor properti.


Di atas semua faktor tersebut, prestasi paling penting yang telah dicapai dan berhasil dipertahankan hingga saat ini oleh Pemerintah Dubai dan UEA adalah stabilitas keamanan yang terjaga, tersedianya infrastruktur modern dan dunia usaha yang berjalan menggunakan aturan bisnis standar internasional, serta konsistensi pemerintah dalam mengupayakan penegakan hukum.

Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.


Sejarah Negara Dubai

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Harga tanah mengalami kenaikan cukup signifikan antara 20 persen dan 30 persen sejak awal tahun 2005, yang membuat biaya pembangunan dan penjualan atau persewaan ikut naik pula. Permintaan jauh lebih tinggi dari penawaran, khususnya di sektor perkantoran, yang memaksa banyak perusahaan atau perorangan membuka kantor atau memilih tempat tinggal di kota Sharjah yang bertetangga dengan Dubai. Di kota Sharjah, harga rumah atau kantor relatif lebih murah dan mudah mendapatkan dibandingkan di Dubai.
Kekurangan lahan perkantoran di Dubai saat ini karena perusahaan properti kini banyak konsentrasi pada pembangunan perubahan yang dianggap lebih menguntungkan. Menurut para broker properti di Dubai, harga sewa kantor sangat mahal dan akan terus naik jika permintaan tetap lebih tinggi dari penawaran. Dalam peta properti di Dubai memang direncanakan dibangun puluhan gedung pencakar langit untuk perkantoran, namun gedung-gedung tersebut bisa siap pakai minimal butuh waktu tiga tahun lagi. Dari puluhan gedung itu, sebanyak 22 gedung pencakar langit akan dibangun perusahaan-perusahaan swasta di kawasan bebas media dan teknologi Dubai.

Penjualan tanah di Emirat Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mengalami kenaikan tajam yang membuat harga tanah naik secara signifikan, bahkan mencapai 100 persen dari masa yang sama pada tahun 2004 dan 300 persen dari masa yang sama pada tahun 2003.

Nilai penjualan tanah di Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mencapai 4.965 miliar dirham atau sekitar 1,25 miliar dollar AS, sedangkan pada masa yang sama tahun 2004 hanya mencapai 2,605 miliar dirham atau sekitar 600 juta dollar AS, pada masa yang sama tahun 2003 hanya mencapai 1,609 miliar dirham atau sekitar 350 juta dollar AS.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya booming pada properti Dubai adalah keyakinan konsumen lokal yang tinggi walaupun bursa saham melemah minggu lalu, penambahan jumlah penduduk yang cepat yaitu lebih dari 1,5 juta dengan pertambahan sekitar 250.000 orang tahun 2004, tingkat keyakinan pembeli asing yang kuat terutama dari Inggris, Jerman dan Rusia, kenaikan gaji sektor swasta dan pemerintah sebesar 25 persen untuk penduduk lokal dan 6 persen untuk kaum ekspatriat swasta, perkembangan real estat dunia dan posisi nilai tukar dollar AS yang cenderung lemah dibandingkan euro dan poundsterling. Peraturan mengenai diperbolehkannya orang asing untuk membeli rumah dan apartemen dengan tingkat kepemilikan 100 persen yang mulai dijalankan sejak tahun 2002 merupakan salah satu faktor pendukung lainnya dalam perkembangan sektor properti.


Di atas semua faktor tersebut, prestasi paling penting yang telah dicapai dan berhasil dipertahankan hingga saat ini oleh Pemerintah Dubai dan UEA adalah stabilitas keamanan yang terjaga, tersedianya infrastruktur modern dan dunia usaha yang berjalan menggunakan aturan bisnis standar internasional, serta konsistensi pemerintah dalam mengupayakan penegakan hukum.

Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.


Sejarah Negara Dubai

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Kekurangan lahan perkantoran di Dubai saat ini karena perusahaan properti kini banyak konsentrasi pada pembangunan perubahan yang dianggap lebih menguntungkan. Menurut para broker properti di Dubai, harga sewa kantor sangat mahal dan akan terus naik jika permintaan tetap lebih tinggi dari penawaran. Dalam peta properti di Dubai memang direncanakan dibangun puluhan gedung pencakar langit untuk perkantoran, namun gedung-gedung tersebut bisa siap pakai minimal butuh waktu tiga tahun lagi. Dari puluhan gedung itu, sebanyak 22 gedung pencakar langit akan dibangun perusahaan-perusahaan swasta di kawasan bebas media dan teknologi Dubai.
Penjualan tanah di Emirat Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mengalami kenaikan tajam yang membuat harga tanah naik secara signifikan, bahkan mencapai 100 persen dari masa yang sama pada tahun 2004 dan 300 persen dari masa yang sama pada tahun 2003.
Nilai penjualan tanah di Dubai pada tiga bulan pertama tahun 2005 mencapai 4.965 miliar dirham atau sekitar 1,25 miliar dollar AS, sedangkan pada masa yang sama tahun 2004 hanya mencapai 2,605 miliar dirham atau sekitar 600 juta dollar AS, pada masa yang sama tahun 2003 hanya mencapai 1,609 miliar dirham atau sekitar 350 juta dollar AS.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya booming pada properti Dubai adalah keyakinan konsumen lokal yang tinggi walaupun bursa saham melemah minggu lalu, penambahan jumlah penduduk yang cepat yaitu lebih dari 1,5 juta dengan pertambahan sekitar 250.000 orang tahun 2004, tingkat keyakinan pembeli asing yang kuat terutama dari Inggris, Jerman dan Rusia, kenaikan gaji sektor swasta dan pemerintah sebesar 25 persen untuk penduduk lokal dan 6 persen untuk kaum ekspatriat swasta, perkembangan real estat dunia dan posisi nilai tukar dollar AS yang cenderung lemah dibandingkan euro dan poundsterling. Peraturan mengenai diperbolehkannya orang asing untuk membeli rumah dan apartemen dengan tingkat kepemilikan 100 persen yang mulai dijalankan sejak tahun 2002 merupakan salah satu faktor pendukung lainnya dalam perkembangan sektor properti.
Di atas semua faktor tersebut, prestasi paling penting yang telah dicapai dan berhasil dipertahankan hingga saat ini oleh Pemerintah Dubai dan UEA adalah stabilitas keamanan yang terjaga, tersedianya infrastruktur modern dan dunia usaha yang berjalan menggunakan aturan bisnis standar internasional, serta konsistensi pemerintah dalam mengupayakan penegakan hukum.

Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.


Sejarah Negara Dubai

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Di atas semua faktor tersebut, prestasi paling penting yang telah dicapai dan berhasil dipertahankan hingga saat ini oleh Pemerintah Dubai dan UEA adalah stabilitas keamanan yang terjaga, tersedianya infrastruktur modern dan dunia usaha yang berjalan menggunakan aturan bisnis standar internasional, serta konsistensi pemerintah dalam mengupayakan penegakan hukum.
Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.


Sejarah Negara Dubai

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Itulah Dubai yang ajaib, dari semula hanya sebuah kawasan gurun pada tahun 1970-an kini berkat booming minyak telah menjelma menjadi kota metropolitan yang setara dengan kota-kota dunia lainnya.

Sejarah Negara Dubai

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Sejarah Negara Dubai

Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Sejarah Negara Dubai
Sangat sedikit diketahui mengenai budaya pra-Islam di tenggara jazirah Arab, kecuali banyak kota kuno di wilayah itu yang menjadi pusat perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Sisa dari rawa mangrove kuno, berusia 7.000 tahun, ditemukan ketika pembangunan jalur selokan bawah tanah dekat Dubai Internet City. Wilayah ini ditutupi pasir sekitar 5.000 tahun yang lalu setelah garis pantai mundur dari daratan, menjadi bagian dari garis pantai kota saat ini. Sebelum Islam, orang-orang di wilayah ini menyembah Bajir (atau Bajar). Kekaisaran Bizantium dan Sassaniyah memiliki kekuasaan besar pada masa itu, dengan Sassaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah. Setelah penyebaran Islam di sana, Khalifah Umayyah, dari dunia Islam timur, memperluas wilayahnya ke tenggara Arabia dan mengalahkan Sassaniyah. Penggalian yang dilakukan oleh Dubai Museum di wilayah Al-Jumayra (Jumeirah) membenarkan keberadaan beberapa artefak dari periode Umayyah. Sebutan Dubai yang pertama kali dicatat adalah pada tahun 1095, di "Book of Geography" oleh ahli geografi Andalusia-Arab Abu Abdullah al-Bakri. Pedagang permata Venesia Gaspero Balbi mengunjungi wilayah ini pada 1580 dan menyebutkan Dubai (Dibei) karena industri permatanya. Catatan yang mendokumentasikan kota Dubai muncul setelah 1799.
Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.


Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Di awal abad ke-19, klan Al Abu Falasa (Dinasti Al-Falasi) dari klan Bani Yas mendirikan Dubai, yang menjadi bagian dari Abu Dhabi hingga 1833. Tanggal 8 Januari 1820, sheikh Dubai dan sheikh lainnya di daerah itu menandatangani "Perjanjian Damai Maritim Umum" dengan pemerintah Britania. Tetapi, tahun 1833, dinasti Al Maktoum (juga keturunan Dinasti Al-Falasi) dari suku Bani Yas meninggalkan permukiman Abu Dhabi dan mengambil ailh Dubai dari klan Abu Falasa tanpa perlawanan. Dubai berada dibawah perlindungan Britania Raya oleh "Perjanjian Eksklusif" tahun 1892, dengan menyetujui perlindungan Dubai terhadap serangan apapun dari Kekaisaran Ottoman. Dua bencana menyerang kota ini pada pertengahan 1800-an. Pertama, tahun 1841, sebuah epidemi cacar muncul di permukiman Bur Dubai, memaksa penduduk pindah ke timur di Deira. Kemudian, tahun 1894, kebakaran terjadi di Deira, menghanguskan banyak rumah. Tetapi, lokasi geografis kota terus menarik pedagang dan penjual dari seluruh wilayah itu. Emir Dubai gencar-gencarnya menarik pedagang asing dan menurunkan pajak perdagangan, yang menarik pedagang dari Sharjah dan Bandar Lengeh, yang merupakan hub dagang utama pada masa itu.
Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Al Fahidi Fort, dibangun tahun 1799, adalah bangunan tertua di Dubai.
Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Dekatnya geografi Dubai dengan India menjadikannya sebagai lokasi penting. Kota Dubai adalah pelabuhan pedagang asing penting, khususnya dari India, banyak di antaranya menetap di kota itu. Dubai dikenal karena ekspor permatanya hingga 1930-an. Tetapi, industri permata Dubai mengalami dampak dari Perang Dunia I, dan kemudian Depresi Besar tahun 1920-an. Akibatnya, kota ini mengalami migrasi massal penduduk ke bagian lain Teluk Persia. Sejak pendiriannya, Dubai berselisih dengan Abu Dhabi. Tahun 1947, sengketa perbatasan antara Dubai dan Abu Dhabi di sektor utara perbatasan resminya, berubah menjadi perang antar kedua emirat. Arbitrasi oleh Britania dan pembangunan pagar yang membentang ke tenggara dari pantai di Ras Hassian menghasilkan penghentian tembak-menembak. Tetapi, sengketa perbatasan antara kedua emirat berlanjut bahkan setelah pembentukan UEA; pada 1979 perjanjian formal tercapai yang mengakhiri tembak-menembak dan sengketa perbatasan antara dua emirat. Listrik, telepon dan bandar udara didirikan di Dubai tahun 1950-an, ketika Britania memindahkan kantor administratif lokalnya dari Sharjah ke Dubai. Tahun 1966 kota ini bergabung dengan negara Qatar yang baru merdeka untuk menetapkan satuan mata uang baru, Riyal Qatar/Dubai, setelah deflasi rupee Teluk. Minyak ditemukan di Dubai pada tahun yang sama, setelah itu kota ini memberikan konsesi pada perusahaan minyak internasional. Penemuan minyak ini membawa Dubai pada masuknya pekerja asing dalam jumlah besar, terutama dari India dan Pakistan. Akibatnya, populasi kota sejak 1968 hingga 1975 naik menjadi 300%, oleh beberapa perkiraan.
Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Tanggal 2 Desember 1971 Dubai, bersama Abu Dhabi dan lima emirat lainnya, membentuk Uni Emirat Arab setelah bekas pelindung Britania meninggalan Teluk Persia tahun 1971.[ Tahun 1973, Dubai bergabung dengan emirat lain untuk menggunakan mata uang tunggal: Dirham UEA. Tahun 1970-an, Dubai terus tumbuh dari pendapatan yang diperoleh dari minyak dan perdagangan, bahkan setelah kota ini mendapat masukan imigran Lebanon yang mengungsi dari perang sipil di Lebanon. Zona Bebas Jebel Ali, terdiri dari pelabuhan Jebel Ali (dikatakan sebagai pelabuhan buatan terbesar di dunia) didirikan tahun 1979, yang menyediakan impor buruh dan kapital ekspor tak terbatas kepada perusahaan asing.
Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 

Perang Teluk Persia 1990 memiliki dampak besar terhadap kota ini. Secara ekonomi, bank di Dubai mengalami penarikan dana yang cukup besar karena kondisi politik tak menentu di wilayah itu. Selama 1990-an, bagaimanapun, banyak komunitas dagang asing — pertama dari Kuwait, selama Perang Teluk, dan kemudian dari Bahrain, selama kerusuhan Syiah — memindahkan bisnis mereka ke Dubai. Dubai menyediakan pangkalan pengisian bahan bakar kepada pasukan sekutu di zona bebas Jebel Ali selama Perang Teluk Persia, dan lagi, selama Invasi Irak 2003. Peningkatan besar harga minyak setelah Perang Teluk Persia memaksa Dubai terus fokus pada perdagangan bebas dan pariwisata. Kesuksesan zona bebas Jebel Ali membolehkan kota ini menggunakan modelnya untuk membangun kumpulan zona bebas baru, seperti Dubai Internet City, Dubai Media City dan Dubai Maritime City. Pembangunan Burj Al Arab, hotel berdiri bebas tertinggi di dunia, juga pembangunan permukiman baru, juga digunakan untuk memasarkan Dubai dalam bidang pariwisata. Sejak 2002, kota ini mengalami peningkatan investasi real estat pribadi dalam membentuk kembali langit-langit Dubai dengan proyek seperti The Palm Islands, The World Islands dan Burj Dubai. Tetapi, pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh nilai inflasi yang naik (11.2% pada tahun 2007 ketika dihitung terhadap Indeks Harga Konsumen) yang digabungkan karena harga penyewaan perkantoran dan permukiman yang berlipat ganda, mengakibatkan peningkatan substansial biaya hidup bagi para penghuninya. 



gedung Burj Dubai (senilai 900 juta dollar AS dan akan menjadi gedung tertinggi dunia dengan ketinggian lebih dari 700 meter)


Arabian Canal (sungai buatan sepanjang 75 km yang akan dipenuhi oleh hotel, perkantoran, kawasan hiburan dll sepanjang pinggirnya)


Dubai Waterfront

Palm Jebel Ali
Palm Jumaeirah
The World ( jadi seperti menciptakan dunia sendiri )


dan Palm Deira yang akan menyediakan 400.000 bangunan dalam bentuk hotel, perkantoran maupun perumahan dan pusat perbelanjaan.



Pemerintahan
Pemerintah Dubai beroperasi di dalam lingkup monarki konstitusional, dan telah dipimpin oleh keluarga Al Maktoum sejak 1833. Pemimpin saat ini, Mohammed bin Rashid Al Maktoum, juga menjabat sebagai Perdana Menteri Uni Emirat Arab dan anggota Dewan Tertinggi UEA (SCU). Dubai menunjuk 8 anggota dalam periode dua masa jabatan kepada Dewan Nasional Federal (FNC) UEA, badan legislatif federal tertinggi. Dubai Municipality (CM) didirikan oleh pemimpin Dubai, Rashid bin Saeed Al Maktoum tahun 1954 untuk perencanaan kota, pelayanan warga kotadan pembaharuan fasilitas lokal. DM diketuai oleh Hamdan bin Rashid Al Maktoum, deputi pemimpin Dubai dan terdiri dari beberapa departemen seperti Departemen Jalan, Departemen Perencanaan dan Survei, Departemen Lingkungan dan Kesehatan Umum dan Departemen Keuangan. Tahun 2001, Dubai Municipality memasuki proyek e-Government dengan tujuan menyediakan 40 layanan kota melalui portal web-nya (Dubai.ae). Tiga belas layanan diluncurkan Oktober 2001, sementara beberapa layanan lainnya dijadwalkan beroperasi pada masa depan.
Dubai dan Ras al Khaimah adalah satu-satunya dua emirat yang tidak mengikuti sistem yudisial federal Uni Emirat Arab. Mahkamah yudisial emirat terdiri dari Mahkamah Pertama, Mahkamah Banding, dan Mahkamah Kasasi. Mahkamah Pertama terdiri dari pengadilan sipil, yang mendengar seluruh klaim sipil, Pengadilan Kriminal, yang mendengar klaim dari keluhan polisi, dan Pengadilan Syariah, yang bertanggungjawab atas masalah antara Muslim. Non-Muslim tidak masuk ke Pengadilan Syariah. Mahkamah Kasasi adalah mahkamah tertinggi emirat dan hanya mendengar sengketa dalam hukum. Dubai Police Force, didirikan tahun 1956 di permukiman Naif, memiliki yurisdiksi penegakan hukum di emirat ini; kekuasaan berada dibawah komando langsung Mohammed bin Rashid al Maktoum, pemimpin Dubai. Dubai Municipality juga bertugas dalam sanitasi dan infrastruktur selokan bawah tanah kota. Pertumbuhan cepat kota menyebabkan perawatan infrastruktur selokan bawah tanah diperluas hingga batasnya.
Artikel 25 Konstitusi UEA menyebutkan perlakuan sederajat terhadap warga negara tanpa memandang ras, kebangsaan, kepercayaan atau status sosial. Tetapi, sebagian besar dari 250.000 buruh asing di Dubai tinggal dalam kondisi yang dijelaskan oleh Human Rights Watch sebagai "lebih buruk dari manusia." NPR melaporkan bahwa pekerja "tinggal berdelapan di satu kamar, mengirim sebagian gaji mereka kepada keluarga, yang tidak mereka kunjungi selamam beberapa tahun pada satu waktu." Tanggal 21 Maret 2006, pekerja di situs konstruksi Burj Dubai, kecewa karena jadwal bus dan kondisi kerja, memberontak: merusak mobil, kantor, komputer, dan alat konstruksi. Peraturan yudisial di Dubai yang meliputi kebangsaan asing mencuat ke berita ketika usaha tertuduh untuk menutupi informasi pemerkosaan terhadap Alexandre Robert, seorang Perancis-Swiss berusia 15 tahun, oleh tiga warga lokal, salah satunya positif HIV dan penahanan massal buruh migran, kebanyakan dari India, karena protes mereka terhadap gaji dan kondisi hidup yang kurang. Prostitusi, meskipun ilegal menurut hukum, muncul di emirat ini karena ekonomi yang didasarkan pada pariwisata dan perdagangan. Penelitian yang dilakukan oleh American Center for International Policy Studies (AMCIPS) menemukan bahwa wanita Rusia dan Ethiopia adalah pelaku prostitusi paling umum, juga wanita dari sejumlah negara Afrika, sementara yang berasal dari India adalah bagian dari jaringan prostitusi lintas lautan yang terorganisir. Sebuah dokumenter PBS tahun 2007 yang berjudul Dubai: Night Secrets melaporkan bahwa prostitusi di klub dibolehkan oleh pihak berwenang dan banyak wanita asing bekerja di sana tanpa dipaksa, tertarik oleh uang.
Baca Selengkapnya >>
 

Popular Posts

Popular Posts this month

Popular Posts this week